Jumat, 22 April 2016

Mencoret!! Jangan Menggambar.

Dalam dunia seni sebenarnya kita berhadapan dengan bahasa. Hah? Maksudnya? Apa kalian memiliki momen di saat kecil, kemudian disuruh menggambar untuk pertama kalinya, "Nih, kertas sama alat gambarnya.. Sok gambar". Dan kamu menggambar. Kamu merasa luar biasa, semangat, kamu berseneng-seneng.. Kamu menggambar sapi berwarna ungu, kucing warna merah, kuda warna biru, dan lain-lain. Dan kemudian seseorang, teman, atau mungkin ibu kamu dateng, dia bilang "Ga ada sapi warna ungu. Itu bahkan ga terlihat seperti sapi." Mendengar itu kamu jadi, "Ouh :(".

Di situ adalah awal dari kegagalan seseorang dalam seni. Hal itu membuat kita berpikir "Aku ga bisa menggambar dan semua orang akan menjudge gambar yang aku buat.". Lalu kemudian ibu bilang, "Udah jangan buang-bang kertas, kalau mau gambar di balik kertasnya aja". 

Kalau kita melihat sebuah sketchbook.. Kertas di dalamnya keramat.. Kita jalan-jalan di toko buku, kemudian kita menemukan sketchbook yang bagus banget. "OMG!! Sketchbook ini bagus banget!" Kertas kualitas tinggi, dengan cover dilapisi emas dan terdapat pernak-pernik indah di sekitarnya. Kita berpikir lagi, waktu kecil si ibu bilang jangan buang-buang kertas. Waktu kecil gambar sapi aku juga ga bagus. Kemudian mikir lagi, "Sketchbooknya bagus. Duh, aku ga boleh buang-buang kertas ini. Mungkin aku gambar disini kalau udah hebat banget aja, soalnya sketchbooknya juga bagus, kan." Dan apa yang terjadi, sketchbook itu masuk ke lemari, jadi pajangan.

Kalau kita ganti bahasanya. Sekarang kita bukan lagi seniman, pelukis, sketcher atau apapun itu. Kita pencoret, kita corat-coret, doodle.. Mencoret untuk menjadi seniman hebat. Kenapa? Karena semua orang suka corat-coret.. Nggk? Kita mencorat-coret waktu lagi nelpon, kita corat-coret waktu bosan di pelajaran.. Corat-coret, doodle, sebenernya di bawah alam sadar kita. Jadi jangan menggambar, karena kalau menggambar, kita akan khawatir, khawatir harus begini, harus begitu.. Dalam doodling, kita ga harus memikirkan proporsi gambar, proporsional ga terlalu penting!! Jangan takut untuk buang kertas, dalam artian baik tentunya.  Doodle waktu dikelas, doodle waktu nunggu bis, doodle waktu ga ngapa-ngapain. Doodle, doodle, doodle... Corat-coret, corat-coret!!..

Waktu saya jalan bareng temen-temen ke sebuah tempat minum teh, dan ketika lagi ga ada yang obrolin, saya ambil pulpen dan corat-coret di tisu, kemudian teman saya mengikuti.. Ga usah takut gimana hasilnya.. Jangan bilang ga bisa nge-doodle.. Doodle adalah sesuatu yang sakral. Ga ada yang mempertanyakan coretan kalian.. Orang-orang mempertanyakan gambar kita, orang-orang mempertanyakan sketsa kita, tapi nggk dengan hanya sebuah coretan. Doodle itu buat diri kita sendiri.

Terus apakah kita hanya mencoret agar bisa jadi seorang pro. Sebenarnya hal itu adalah langkah pembiasaan. Setelah kita sudah biasa dengan coretan kita, doodle kita --Well, doodle kamu, bukan kita-- langkah selanjutnya untuk menjadi lebih baik adalah coretan yang disengaja. Doodling secara intensional. Perbedaannya adalah, jika biasanya doodle tanpa berpikir, Aimlessly, tanpa tujuan, dan setelah selesai mencoret kita abaikan hasilnya, bahkan dibuang. Tapi sekarang kita harus memiliki sikap yang berbeda dalam doodling, sikap seni. Observasi! Pilih apa yang ingin di masukan dalam doodle. Lihat sesuatu! Berlatih mengkordinasikan tangan dengan mata. 

Dan yang pasti, jangan takut menjadikan karya orang lain sebagai referensi. Ingat, REFERENSI!! Bukan bahan plagiat.. Mencurilah layaknya seorang seniman!! Steal like an artist!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar